Cerita bokep

Sex Cewek Panggilan Indo

Cerita bokep – Lina keluar dari lift bareng dengan sejumlah orang lainnya. Gadis cantik tersebut langsung bergegas mengarah ke ke kamar yang dilafalkan oleh Om Hardi ditelepon tadi. Sesampai di depan pintu kamar bertuliskan nomor , Lina mengetuk pintu tersebut sejumlah kali tetapi sama sekali tidak terdapat jawaban. Begitu ketukan terakhirnya pun tidak mendapat respon, ia mengupayakan membuka pintu kamar tersebut. Rupanya pintu itu tidak terkunci dan gadis cantik tersebut pun dengan hati-hati masuk ke dalam kamar.

Ruangan kamar tersebut memang tampak kosong, tetapi sayup-sayup Lina dapat mendengar suara senandung dari kamar mandi. Agaknya Om Hardi sedang mandi, demikian pikir Lina sampai-sampai akhirnya gadis cantik tersebut memutuskan guna duduk di kursi dan menunggu.

Tak lama setelah tersebut pintu kamar mandi tersingkap dan muncullah sosok kurus berambut separuh putih. Laki-laki paruh baya yang kini melulu berbalut handuk putih sekedar pinggang tersebut pun tersenyum menyaksikan Lina yang sedang duduk di kursi. Sex

“Sorry jadi buat kamu menunggu, telah lama cantik?”.
“Nggak kok Om, baru aja..”.
“Om kangen banget sama anda lo hehehe..”.

Baca Juga: Belenggu Rindu Yang Tertahan

Ciuman lembut juga menyusul tiba di bibir mungil Lina. Hanya dalam sejumlah hitungan detik ciuman tersebut sudah pulang menjadi pagutan panas. Walaupun tadinya Lina tampak agak kaku, tetapi akhirnya dua-duanya pun sekarang sudah tampak mulai nyaman memainkan lidah mereka.

“Oh maafin Om, kok Om jadi bernafsu Lini ya?”, ucap Om Hardi.
“Nggak… nggak apa-apa kok Om”.
“Kamu inginkan mandi dulu?”.
“Lina udah mandi kok tadi Om”, sahut Lina singkat.
“Pantesan wangi banget tubuhmu, anda sudah santap cantik?”.
“Sudah Om”.

Sebagai seorang laki-laki berumur, Om Hardi tampak pandai memainkan suasana. Ia dapat melihat bila Lina masih tampak tegang dan kaku, sampai-sampai ia mencoba mengencerkan suasana dan menciptakan sang gadis menjadi lebih rileks. Mencumbui gadis dalam suasana tegang pastinya tidak bakal terasa nikmat, karena tersebut laki-laki paruh baya tersebut menyadari bakal pentingnya mengerjakan foreplay sebelum bercinta.

“Benar-benar lembut dan wangi, dapat kita mulai sekarang?”.

Om Hardi lantas menarik lembut tangan Lina dan mengajaknya berlangsung mendekati ranjang. Di depan ranjang laki-laki paruh baya tersebut memandang tajam ke arah wajah Lina.   Disentuhnya pipi gadis cantik tersebut dan lantas tangan tersebut menjalar menyusuri permukaan kulit Lina yang halus. Begitu hingga di leher sang gadis, tangan Om Hardi kemudian beralih ke bibir guna kemudian selesai membelai rambut Lina yang panjang.

“Kamu benar-benar cantik dan memukau Lin”.
“Aaah..”, Lina mendesah pelan saat Om Hardi kembali mendekap tubuhnya dan mendaratkan pagutan di bibirnya.

Masih dalam suasana memagut bibir Lina, tangan laki-laki tersebut masuk ke dalam tank top dan mulai merabai payudara si gadis cantik. Kini permukaan telapak tangan Om Hardi dapat merasakan langsung kelembutan dan kepadatan payudara Lina. Si gadis cantik sendiri nampak mulai terangsang dampak pagutan dan remasan yang mendera bibir dan bukit kembarnya.

“Oooh.. Om..”, desah Lina pelan saat Om Hardi sengaja memelintir puting payudaranya.

Kecekatan jari-jari tangan laki-laki paruh baya tersebut membuat sepotong pakaian dalam tersebut dengan mudahnya terlepas. Begitu bra itu terlepas, Lina langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi kedua payudaranya. Walaupun perbuatan tersebut tidak terdapat gunanya toh laki-laki paruh baya dihadapannya tersebut sudah pernah menyaksikan dan menikmati kekenyalannya, tetapi insting kewanitaan menciptakan Lina refleks melakukannya.

“Hhhmm.. katanya masa-masa ini 36 A? Yang ini kok 36 B? Hehe”.
“Iya kan jadi tambah gede masa-masa Om sedot terakhir hehe..”, jawab Lina genit.
“Kamu tersebut benar-benar badung dan menggemaskan! Om suka banget..”.
“Aaoo.. sakit Om!”, Lina berteriak saat dengan iseng Om Hardi pulang memilin puting kirinya.
“Oh terlampau keras ya? Maaf deh, abis anda tu nafsuin banget sih hehehe..”.
“Oooh.. Om..”.

Tubuh Lina langsung melenguh pasrah saat dengan rakus Om Hardi melahap buah dada kanannya. Sementara tersebut payudara kiri sang gadis pun tak lepas dari remasan powerful tangan Om Hardi. Di permukaan payudara montok nan padat tersebut pun sekarang mulai berlahiran bercak-bercak merah saat bibir laki-laki paruh baya tersebut menyodot semakin keras. Di samping bercak-bercak merah, permukaan kulit halus tersebut juga telah terlihat basah terpapar air liur.

“Ssrruup.. sruuup.. sruup..”, suara decakan pertemuan bibir Om Hardi dengan permukaan dada Lina semakin jelas terdengar.
“Aaahh.. oooh..”.
“Kamu benar-benar gadis yang paling cantik Lin”.
“Om tentu akan kangen berat sama kamu..”.
“Kangen Lina atau kangen ama yang beda Om? Hehehe..”, Lina tersenyum menggoda.

Agaknya Lina sadar bila kelemahan laki-laki paruh baya laksana tipe Om Hardi ini ialah pada pujian dan godaan nakal. Dengan tidak sedikit memuji dan menggoda Lina bercita-cita nantinya Om Hardi lebih royal lagi merogoh koceknya. Dengan begitu ia dapat segera mewujudkan impiannya dari hasil “kerja”nya hari ini. Sungguh suatu bakat alam yang luar biasa.

“Iya kangen sama anda dong, pun sama yang ini..”.
“Aaoo.. iiih.. Om genit..”, Lina mendesah saat Om Hardi pulang menggigit puting payudaranya.
“Sekarang buka celana anda dan sepong kontol Om”.
“Jangan semuanya, tetap gunakan celana dalammu!”.
“Oooh..”, Om Hardi melenguh panjang saat Lina mulai mengocok batang penisnya dengan memakai mulut.
“Kita pindah ke kasur yuk cantik..”.

Om Hardi lantas mengusung tubuh Lina yang terjongkok dan mengajaknya mengarah ke ranjang. Laki-laki paruh baya tersebut lebih dahulu berbaring di ranjang, sedangkan Lina masih berdiri di samping ranjang. Kemudian sesudah Om Hardi memposisikan diri duduk di pinggir ranjang ia juga memberi isyarat untuk Lina guna naik pula ke atas ranjang.

“Sini dong cantik, lanjutkan yang tadi”.
“Iya Om..”.

Di tengah kuluman dan kocokan Lina, sejumlah saat kegiatan tersebut berhenti sebab Om Hardi mesti memungut ponselnya yang terbaring di atas meja kecil di samping ranjang. Setelah sempat unik nafas sejumlah saat, Lina juga kembali melanjutkan service oralnya.

“Om, tidak boleh direkam dong Lina kan malu”, gadis cantik tersebut menghentikan kulumannya dan menutupi wajahnya.
“Cuma guna koleksi individu kok cantik hehehe..”.
“Jangan ah Om..”, Lina masih terus berjuang menutupi wajahnya walaupun sekarang Om Hardi telah terlihat menunjukkan ponsel ke arah payudaranya.
“Bentar aja kok, mari dong dilanjutin lagi..”

Walaupun masih kesal dengan tindakan Om Hardi yang masih asyik memain-mainkan kamera ponselnya, Lina darurat mengikuti keinginan laki-laki tersebut untuk melanjutkan permainan. Gadis cantik tersebut sadar bagaimanapun Om Hardi ketika ini ialah konsumen pemakai jasanya, sampai-sampai selama ia menunaikan dengan harga yang layak maka ia mempunyai hak untuk mengerjakan apa yang sedang dilakukannya sekarang.

Tak lama setelah tersebut Om Hardi mengusung kepala Lina sampai-sampai kulumannya berhenti. Kemudian laki-laki paruh baya tersebut meremas-remas kedua payudara Lina dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menggali sudut pandang terbaik untuk mengabadikan kedua bukit kembar sempurna tersebut.

“Oh toketmu ini Lini bener-bener spektakuler montok!”, ucap Om Hardi seraya memainkan puting kanan Lina.
“Aaoo..”, Lina melulu melenguh pelan.
“Ini satu lagi yang Om suka”, sekarang tangan kiri Om Hardi yang berganti memegang ponsel, sebab tangan kanannya sekarang merambah turun merabai selangkangan Lina.
“Rupanya anda tipe cewek yang cepet basah ya? Hehehe…”.

Apalagi saat laki-laki tersebut mulai mengocok lubang itu dengan jari-jarinya kian menciptakan tubuh sang gadis bergelinjang, sementara kedua pahanya terlihat makin mengangkang lebar. Lina sendiri mesti memakai kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya yang tampak mulai terbakar birahi. Om Hardi sendiri tampak tersenyum kecil menyaksikan perubahan yang terjadi pada bidadari kecilnya tersebut.

“Oooh ooohh aaakh..”, desahan pelan terus terdengar keluar dari mulut Lina.
“Makin basah nih cantik hehehe…”, goda Om Hardi seraya terus menghujam-hujamkan jari-jarinya.
“I iya Om oooh..”.
“Udah pengen kontol nih kayaknya?”.
“I iya Om”.
“Mau kontolnya Om nggak? Hehe..”.
“Mau Om..”.
“Bener?”.
“Bener Om aaah..”.
“Kalau gitu masukin dong kontolnya Om terus digoyang”.

Setelah berbicara demikian Om Hardi membaringkan tubuhnya di ranjang. Lina sendiri nampaknya memahami dengan apa yang dimaksudkan oleh laki-laki paruh baya tersebut. Dengan berlahan Lina mengusung tubuhnya dan berdiri mengangkang diatas tubuh Om Hardi. Kemudian dengan berlahan pula gadis cantik tersebut mengambil posisi berjongkok. Dengan memakai tangan kirinya Lina memungut batang penis Om Hardi dan mulai menunjukkan ke lubang vaLinanya, sementara tangan kanan ia pakai sebagai penumpu.

“Oooh tak waras Lin memekmu aaaahh..!!”, Om Hardi merancau hebat.
“Oooh Oooh Oooh..”, Lina juga mendesah tak kalah hebat.

Dalam posisi woman on top laksana ini Lina nampak benar-benar dapat menguasai permainan. Walaupun ini ialah baru kali kedua ia memasarkan diri, tetapi gadis cantik tersebut terlihat telah sangat kawakan memuaskan laki-laki langganannya di atas ranjang.

“Cantik, Om boleh nanya nggak?”.
“Nanya apa Om?”.
“Kamu pernah ngelakuin anal nggak ama pacar kamu?”.
“Blom Om..”.
“Artinya pantat anda masih perawan dong?”.
“Bagaimana bila Om tambahin bayaran anda dua kali lipat, anda mau nggak ngasi Om bikin nyoba lubang anda yang satu itu?”.

Sebuah permintaan yang begitu berat guna dipenuhi. Permintaan yang tak pernah ia bayangkan untuk kerjakan sebelumnya. Membiarkan suatu penis menghujam ke dalam lubang duburnya pun tentu berarti merelakan keperawanan terakhirnya yang masih tersisa.

“Om tidak bakal memaksa anda cantik, bila kamu tidak mau pun tidak apa-apa kok?”, ucap Om Hardi sarat kebapakan sambil mengelus rambut panjang Lina.
“Lin.. Lina inginkan kok Om..”.
“Oh.. anda yakin?”, Om Hardi tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Lina tidak menjawab. Ia melulu menganggukkan kepalanya. Om Hardi lantas beranjak turun dari ranjang dan berjalan mengarah ke lemari pakaian. Lina hanya dapat menatap ke arah laki-laki itu dan bertanya-tanya apa gerangan yang bakal dilakukannya. Tak lama terlihat bila laki-laki tersebut mengambil suatu botol kecil yang entah apa isi didalamnya.

“Ayo anda mulai cantik hehehe”.

Om Hardi membaringkan pulang tubuh Lina di ranjang. Gadis cantik tersebut sendiri hanya dapat pasrah sebab toh ia tadi sudah menyerahkan persetujuannya. Kini ia melulu bisa bercita-cita semuanya berlangsung cepat dan tidak menyakitkan. Tanpa dikehendaki Lina, sekarang tubuhnya secara refleks terasa bergidik hebat. Om Hardi sekarang kembali membuka lebar kedua paha Lina.

“Ini Om oleskan biar nanti nggak kerasa sakit”, Om Hardi menuangkan isi botol kecil itu ke tangan kirinya.
“Ini ialah pelumas, nggak akan memberikan efek apa-apa kok”, sambungnya lagi.
“Sssshh”, Lina mendesah pelan. Ia menikmati rasa dinLin yang paling menyengat saat cairan kental tersebut menyentuh permukaan selangkangannya.
“Tahan sebentar ya, Om akan masukin cairan ini tidak banyak ke dalam”.
“Aaakkhh Om..”.

Segera setelah tersebut Lina menikmati jari Om Hardi menyeruak masuk ke dalam lubang pantatnya. Rasa dinLin bercampur tidak banyak rasa sakit makin terasa begitu kuat saat jari tangan itu bergerak berputar-putar. Desahan-desahan pelan terus terdengar keluar dari mulut Lina.

“OK sudah, kini siap-siap, barangkali ini bakal terasa tidak banyak sakit di awal”.
“Pelan-pelan Om..”, desah Lina.
“Iya cantik..”.

Tak lama Lina dapat merasakan ujung penis Om Hardi mulai menggesek-gesek permukaan pantatnya. Lalu ujung penis tersebut kemudian dirasakannya mulai menari-nari di permukaan lubang duburnya. Lina memejamkan matanya dan menggenggam sprei ranjang kuat-kuat. Teriakan kencang mengisi seluruh penjuru ruangan saat batang penis Om Hardi sudah sepenuhnya tenggelam di dalam lubang dubur Lina.

“Aaaakkh Om.. aaakkh sakiiit..”.
“Ditahan sayang..!”.
“Om..!!”, lenguh Lina.
“Aaakkh.. ooohh.. aaakkh..!!”.
“Oh Lin, sempit banget..!!”.
“Om.. sa sakit..!!”, tubuh Lina semakin bergelinjang hebat.

Sebenarnya vaLina Lina pun memberikan sensasi kesenangan yang tak kalah luar biasa, tetapi sebagai seorang petualang cinta Om Hardi pastinya tidak bakal menyia-nyiakan peluang langka ini. Menikmati dubur perawan seorang remaja yang cantik jelita. Jauh di dalam hati Om Hardi ia paling bangga menjadi laki-laki kesatu yang menikmati kesenangan lubang “alternatif” kepunyaan Lina.

“Oooh.. seket banget pantat lu perek!! Nggak percuma gue ngeluarin fulus banyak!!”.
“Aaakkh ooohh.. aaakkh..!!”.
“Rasain nih lonte!! Gue obrak-abrik pantat lu!!”
“Oooh.. tak waras gila banget.. ooohh..”, rancau Om Hardi.

Walaupun rasa sakit telah mulai berkurang dirasakannya, tetapi ia sama sekali tidak terlihat merasakan persetubuhannya kali ini. Pikiran yang menerawang entah kemana diperbanyak dengan pandangan yang mulai berkunang-kunang menciptakan ia tidak dapat merasakan apa-apa lagi.

“Oooh.. gue nyampe nih!! Gila jepitannya pantat lu perek!!”
“Aaaahh… nikmat banget!!!”.
“Jleeep jleeeep jllleeep!!”, Om Hardi semakin kencang menggenjot lubang pantat Lina.
“Aaaahh ooohhh..”, lenguhan panjang terdengar keluar dari mulut Om Hardi.
“Crooott crooot crooot..!!”.

Mungkin Om Hardi benar-benar menikmati kepuasan maksimal sehingga menjangkau klimaks yang luar biasa. Walaupun semburan terakhir sudah berlalu dikeluarkan, tetapi Om Hardi nampak tak mau menarik batang penisnya sampai-sampai batang tegang tersebut mengendur di dalam lubang dubur Lina. Setelah batang penisnya mengecil barulah laki-laki paruh baya tersebut menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Lina.

Nafasnya tampak memburu saat tubuhnya terlentang di atas ranjang. Sedangkan tubuh Lina masih tampak tergolek lemah laksana tadi tanpa terdapat gerakan sama sekali. Hanya saldo cairan kental berwarna putih yang terlihat tidak banyak meleleh keluar dari lubang duburnya.   END